Saturday, June 18, 2016

Cerita Seram Selama Mengabdi di Desa Terpencil – Part 6

Setelah melewati malam pertama yang cukup membuatku resah, akhirnya kami memasuki hari kedua. Cahaya mentari pagi yang bersinar sangat redup karena masih tertutupi awan mendung dari kemarin malam membuat suasana di pagi hari masih cukup gelap dan udara sangat dingin meskipun jam telah menunjukkan pukul 7. Aku pun beranjak dari tempat tidur dengan kepala yang masih sedikit berat karena tidurku yang kurang nyenyak kemarin malam.

Ucapan pak Supir tentang kondisi desa ini, Ibu Tua, eh lebih tepatnya nenek tua bungkuk yang berjalan tanpa alas kaki dan tidak menatap kaki serta bau aneh yg tercium benar-benar menghantui pikiranku. Ah biarlah… Jangan diingat-jangan diingat.

Hari kedua, ya hari ini sudah dimulai kehidupan kami yang sesungguhnya di desa terpencil ini. 

Laras : “Bangun-bangun semua. Hari ini kita uda mulai jalankan tugas piket ya !”

Danu : (Hoaaammm, sambil menguap karena baru bangun tidur) “Iya… Hari yang piket kelompok siapa ya?”

Angela : “Kelompok kita Dan!”

Danu : “Eh??? Kita duluan yah? Gue pikir kelompok si Victor n Dony. Ya uda kita mau napain?”

Gue : (Gue ikut nimbrung) “Buat sarapan oe sarapan, gue laperrrrr.”

Pagi hari pun kami lewati dengan sarapan indomie, selanjutnya kami menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang hingga siang hari. Siang hari kami merencanakan utk berangkat ke rumah pak Kades untuk bertanya di mana kami dapat berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari serta membahas tentang warga-warga yang tinggal di desa ini.

Victor : “Siang ini kita ke rumah Pak Kades yuk ? Kita harus nanya-nanya dimana kita harus membeli kebutuhan sehari-hari nih, terus ini uda memasuki hari kedua, kita harus mulai bersosialisasi dengan warga juga.”

Amelia : “Iya yuk siap-siap berangkat!”

Gue : “Gue bole stay di rumah aja gak? Kepala gue agak berat nih?”

Amelia : “GAAKKK !” (Sambil pasang tampang sinis)

Kami pun berangkat menuju rumah pak Kades yang bisa di bilang kalau dengan berjalan kaki, ini akan memakan waktu lebih kurang 15 menit, di sini kami ga ada kendaraan apapun, dan rata-rata warga di sini juga jarang memakai kendaraan, kebanyakan mereka berjalan kaki. Selama perjalanan, kami memang melihat adanya beberapa rumah warga, namun jaraknya memang jauh-jauh, paling ketemu satu rumah, terus berjalan beberapa puluh meter baru ketemu rumah lagi. Selebihnya hanya jalan pasir dan tanah lihat dan dikelilingi pohon-pohon di kiri kanan. Pokoknya benar-benar alam yang indah deh !

Ada satu yang aku agak aneh, setiap kali kami melewati rumah warga, kami berusaha seramah mungkin untuk menyapa mereka, ya bisa dengan kalimat “Siang Bu!”, “Siang Pak”, tetapi respon mereka kebanyakan diam dan hanya mengangguk saja, sesekali tersenyum tapi sangat jarang. Duhhh respon macam apa ini ya….. Kok kami sepertinya dianggap seperti warga asing banget yah, atau jangan-jangan pak Kades belum infoin ke warga-warga akan kedatangan kami yah? Yang bikin ga enaknya yah mata mereka selalu menatap kami dari awal kami lewat hingga kami menghilang, seperti ada yang sesuatu yang mengganjal di diri kami… Gue bener-bener ga tahan dengan situasi begini, tapi mau gimana lagi, jalanin aja karena masih lama, toh gue liat temen-temen gue yang lain pasti punya perasaan yang ga nyaman seperti yang gue rasain.

Gue : “Vic, lu liat warga-warga selama kita jalan ini gak? Tatapan mereka rata-rata kosong dan melihat ke kita terus ya?”

Victor : “Iye keknya, gue rasa klo bapak-bapak terpesona ama kecantikan cewe-cewe kita deh, mungkin mereka jarang lihat yg bening-bening, di sini kan rata-rata kulitnya sawo matang n agak hitam. Klo ibu-ibu mgkn terpesona ama kegantengan lo kali Don ! Wakakak”

Gue : (Agak bergumam) “Ah kentut lu Vic. Gue ngomong serius malah dicandain, lagian kok kegantengan gue buat Ibu-Ibu sih ! Buat bunga desa sini kek hahahaha.”

Suasana canggung gue pun terpecahkan oleh candaan si Victor. Tak lama kemudian, kami pun sampai di rumah Pak Kades. Kami disambut dengan baik oleh Pak Kades dan Istrinya, tentunya di jamu makan siang dan dibuatkan lauk lebih utk makan malam kami. Selesai makan, kami pun berbincang-bincang dengan pak Kades.

Pak Kades : “Ehm.. Gimana malam pertama kalian nginap di desa ini? Nyaman?”

Gue : “Nyaman sih Pak, tapi kemarin…” 

Victor : (Langsung motong gue) “Nyaman pak, tapi kemarin mati lampu tiba-tiba aja jam 9 malam bikin kaget. Hehehe”

Gue : (Oh iya, baru tersadar gua, hampir aja terucap hal-hal yang aneh) “Iya pak kemarin mati lampu.”

Pak Kades : “Yah. Saya lupa infoin ke kalian, Desa ini setiap malamnya mulai dari pukul 9 sampai subuh, bisa jam 3, bisa jam 4, jam 5 baru lampunya hidup.”

Gue : “Oh pantesan pak, tadi jam 3 subuh, lampu uda hidup kok.”

Pak Kades : (Agak terkejut) “Loh ! Kalian jam 3 subuh belum tertidur ?”

Gue : (Agak bingung melihat pak Kades terkejut) “Iya Pak. Kebelet pergi ke toilet belakang Pak, makanya terbangun.” (Gue ngerahasiain klo sebenarnya yg pergi ke toilet cewe biar ga dipikir macem2)

Monica dan Amelia tampak sangat serius mendengarkan omongan pak Kades, sementara yang lainnya ada yang membantu istri pak Kades di dapur, dan selebihnya ikut mendengarkan kami.

Pak Kades : (Sedikit meneteskan keringat) “Aduhhh.. Saya lupa bilang lagi. Pokoknya kalo sebelum jam 5 or 6 pagi, kalian jangan ada yang keluar rumah deh !”

Kami sedikit terkejut mendengar ucapan dari Pak Kades kalau kami dilarang keluar rumah. Aneh saja kedengarannya.

Victor : “Maaf Pak. Kenapa dilarang keluar rumah ya?”

Pak Kades : (Terdiam dan bingung utk menjelaskan) “Ya pokoknya hindarin jangan keluar dari rumah terhitung mulai dari jam 9 saat mati lampu hingga subuh jam 5 or 6 pagi seperti yang saya bilang deh.”

Gue : (Masih penasaran) “…”

Amelia : “Maaf Pak, klo misalnya ada yang kebelet di jam segitu gimana ya?”

Pak Kades : “Mmmm… Ya secepatnya aja deh untuk kembali.”

Danu dan Aldi yang ikut nimbrung mendengarkan cerita kami juga menyimpan rasa penasaran dan Danu pun tiba-tiba ikut bertanya.

Danu : “Pak, memangnya kenapa sih jam segitu? Apa ada yang aneh-aneh ya?”

Pak Kades : “Hahahahaha… Ya enggak, cuman napain kalian keluar di jam segitu lagi kan? Itu uda jam istirahat! Kalian mulailah sosialisasi dengan warga, tapi di pagi hari sampai malam hari sebelum jam itu ya hehe” (Terlihat ketawanya dibuat-buat dan sepertinya menyembunyikan sesuatu)

Ah udahlah pikir gue dan temen-temen lainnya, sepertinya pak Kades ini menyimpan sesuatu dan memang lebih baik kami ngikutin saran dia deh, jangan keluar di jam segitu. Ingat ingat, ini tanah orang, kita gak tahu kehidupan orang sini seperti apa. Jangan berbuat yang macam-macam.

Ya hanya ini yang kutanamkan dipikiranku, tapi sepertinya Danu sedikit penasaran, Victor juga sedikit penasaran akan ucapan pak Kades, kalo Aldi sepertinya setuju dan patuh dengan ucapan pak Kades deh. Sekilas kulihat ke arah para cewe, terutama Monica, mereka juga kelihatan agak cemas dan penasaran dengan omongan pak Kades, tapi biarlah, yang penting jangan sampai ada yang macam-macam ada.
Stelah melihat hari sudah semakin sore, kami pun memutuskan utk kembali ke rumah kami, tak lupa istri pak Kades juga menyiapkan makan malam buat kami, besok kami baru mulai belanja ke pasar yang telah dibahas dengan pak Kades sebelumnya.

Seperti biasa, di perjalanan pulang, tatapan warga pun terus mengikuti kami setiap kami melewati rumah mereka dari awal jalan hingga kami menghilang dari tatapan mereka. Wowww tatapan yang dingin dan menegangkan pokoknya ! Selama perjalanan, kami terpaksa membiarkan cewe untuk jalan ditengah dan di sisi kanan dan kiri mereka diisi oleh Gue, Victor, Danu dan Aldi. Nah sosok pahlawan sudah mulai tampak dikit-dikit deh di sini hahahahaa ~

Kami pun tiba di rumah, jam telah menunjukkan pukul 6 sore, malam kedua pun akan segera tiba. Menjelang datangnya malam, kami mulai kepikiran lagi apa yang dikatakan oleh Pak Kades tadi, terutama gue yang mengait-ngaitkan kejadian ibu tua kemarin dengan apa yang diucapkan oleh Pak Kades. Apakah malam kedua ini akan berjalan dengan lancar? Ataukah ada sesuatu yang akan terjadi lagi ? Nantikan dikisah selanjutnya.

0 comments:

Post a Comment